b. Objek Wisata Budaya

Objek Wisata Budaya yang ada di Kabupaten Buru Selatan merupakan Budaya turun temurun yang harus dilestarikan oleh generasi muda sehingga tidak hilang karena pengaruh dari budaya barat/luar.

  1. Tarian 7 Putri

Tarian 7 putri atau dalam bahasa buru disebut “bokirpito”. Tarian ini terdiri dari 7 gadis cantik yang melambangkan sebagai bidadari, satu orang lelaki sebagai seorang pangeran yang dilengkapi dengan alat musik tradisional, kisahnya cukup terkenal pada jaman dulu kala ada 7 orang putri yang menggunakan salendang sebagai kekuatan atau sayap. Tarian ini biasanya ditampilkan pada acara adat atau pada kegiatan pentas seni sebagai bentuk dari melesatarikan adat istiadat bangsa yang ditinggalkan oleh leluhur untuk diteruskan.

2. Hum Kolon

 Hum Kolon adalah istilah dalam bahasa Buru yang artinya “rumah penyimpan hasil alam”. Biasa sebagian besar kehidupan masyarakat Buru Selatan yang mendiami daerah pegunungan sampai saat ini masih membuatan Hum Kolon sebagai rumah untuk menampung hasil alam mereka. Secara tradisional Hum Kolon merupakan warisan orang leluhur di Buru Selatan untuk anak cucu mereka

Proses pemanfaatan Hum Kolon sebagai tempat penampung hasil alam memiliki bentuk yang unik yang terbuat dari kulit kayu dan beratap rumbiah mengambarkan kesederhanaan masyarakat. Hampir  sebagian besar hasil alam semuanya ditampung di Hum Kolon diantaranya hotong, sayur, singkon dan hasil alam lainnya.

Tidak jauh dari kota Namrole dapat kita kunjungi Hum Kolon di daerah kilo 7 dan kilo 9 disitulah kehidupan masyarakat Buru Selatan tergambar secara nyata lewat adat dan budaya yang terus dipelihara sebagai indentas mereka.

3. Desa Adat Rumah Tiga

Rumah tiga adalah pemukiman masyarakat adat yang sepi, damai, dan aman tersembunyi disudut kota Kota Namrole terdapat hunian masyarakat adat yang diberi nama Rumah Tiga. Masyarakat adat yang mendiami lokasi dipersimpangan kota  ini memberi nama tempat tinggal mereka Rumah Tiga karena awalnya masyarakat yang mendiami lokasi tersebut hanya terdepat 3 (tiga) Rumah. Lokasi Desa Wisata Budaya ini merupakan Anak Dusun kilo 5 (lima) yang secara admistrasi berada di bawah Desa Namrinat Kecamatan Namrole ± 4 km dari kota Namrole.

Sebutan rumah tiga menjadi sebutan yang akrab ditelinga masyarakat kota Namrole, karena kehidupan masyarakat di Rumah Tiga  mengambarkan keaslian kehidupan masyarkat Buru Selatan. Pemukian yang hanya dihuni kurang lebih 20 orang lebih ini belum memiliki agama atau di Buru Selatan dikenal dengan sebutan “masyarakat hindu” artinya masyarakat yang belum mengenal agama. Sementara ciri khas bangunan rumah mereka memiliki daya tarik tersendiri yang mengambarkan kondisi dan ciri khas rumah-rumah tradisional masyarakat Buru Selatan asli.

 

4. Atraksi Ikan Opofot

Ikan Opofot adalah salah satu jenis ikan air tawar (air sungai). Jenis  ikan ini dalam bahasa Buru disebut dengan “Opofot” ukuran kecil (sebesar ikan teri) yang ditemukan di Desa Mengeswaen dan Desa Waekatin  Kecamatan  Leksula  Kabupaten  Buru Selatan. Uniknya ikan ini harus melalui proses memancing bukan hanya memancing biasa yang umumnya dilakukan banyak orang, namun untuk mendapatkan ikan Opofot orang yang memancing dengan menyanyikan sejenis lagu khusus dalam bahasa Buru, sehingga ikan tersebut keluar dari tempat persembunyiannya. Selain itu orang yang memancing harus menyanyi dengan penuh perasaan sehingga ikan tersebut bisa memakan umpannya. Pengunjung dapat menggunakan transportasi laut dari Kota Namrole atau Kota Leksula dengan menggunakan speedboat  ke Desa Tifu kemudian menuju lokasi atraksi ikan Opofot dengan menggunakan mobil atau pengunjung dapat menggunakan transportasi darat langsung dari Kota Namrole atau Leksula. Dengan  waktu yang perlukan 3-4 jam perjalanan.

5. Hotong/ Feten :

Feten (Hotong) ada dua jenis, Hotong dalam bahasa Buru yakni “Feten”, jenisnya terdiri dari Hotong Berbulu (Fet Foloto) dan tidak berbulu (Fet Kikin). Bagi masyarakat Buru Selatan Khususnya Hotong dikonsumsi oleh masyarakat sebagai makanan pokok  dan juga dapat dibuat menjadi berbagai macam panganan dan kue-kue diantaranya sup ikan hotong, nasi tumpeng hotong, pudding hotong, cake hotong dan lain-lain. Hotong memiliki nilai gizi yang tinggi karena mengandung zat karbohidrat yang tinggi  lebih dari beras sesuai hasil uji laboratorium di UGM.